Kongres Kebudayaan pertama kali diselenggarakan pada 1918. Diselenggarakan di Surakarta, kongres pertama tersebut memang terbatas untuk kebudayaan Jawa. Akan tetapi, untuk pertama kalinya ada keinginan kolektif untuk merumuskan arah perjalanan kebudayaan. Sastrowijono menyatakan pada pembukaan kongres tersebut: “Apabila sebuah bangsa mengesampingkan kebudayaannya sendiri serta tidak menghargai apa yang diwariskan nenek moyangnya, maka bangsa itu tidak layak untuk maju.”

5 – 9 Desember 2018

  1. Makna Sejarah Kongres Kebudayaan Indonesia 2018

Kongres Kebudayaan pertama kali diselenggarakan pada 1918. Diselenggarakan di Surakarta, kongres pertama tersebut memang terbatas untuk kebudayaan Jawa. Akan tetapi, untuk pertama kalinya ada keinginan kolektif untuk merumuskan arah perjalanan kebudayaan. Sastrowijono menyatakan pada pembukaan kongres tersebut: “Apabila sebuah bangsa mengesampingkan kebudayaannya sendiri serta tidak menghargai apa yang diwariskan nenek moyangnya, maka bangsa itu tidak layak untuk maju.”

Diselenggarakan di era kolonial, Kongres Kebudayaan pertama itu sempat mengalami kendala dari aparat kolonial. Pemerintah negeri jajahan meminta penyelenggara untuk membatasi pembicaraan dalam kongres pada masalah bahasa saja. Akan tetapi, permintaan ini  ditolak oleh panitia dan akhirnya kongres pun diselenggarakan untuk mengupas segala aspek kebudayaan. Sejak penyelenggaraan pertama, karenanya, Kongres Kebudayaan telah menjadi gelanggang perumusan arah kebudayaan yang bersemangatkan kedaulatan, kemandidian dan kepribadian.

Kongres Kebudayaan Indonesia pertama di masa kemerdekaan diselenggarakan pada 1948. Memikul tugas membuat rumusan tentang arah dan strategi kebudayaan, para peserta Kongres Kebudayaan Indonesia I sadar penuh akan tugas-tugas nasionalnya mendirikan kebudayaan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian setelah ratusan tahun penjajahan. Semangat menyusun strategi kebudayaan untuk keluar dari mentalitas bangsa jajahan dan mewujudkan mentalitas bangsa merdeka ini terus berlanjut hingga Kongres Kebudayaan Indonesia V pada tahun 1960. Proses ini terputus sepanjang lebih dari tiga dekade. Kongres Kebudayaan Indonesia selanjutnya baru terjadi pada tahun 1991.

Sejak era Reformasi, Kongres Kebudayaan Indonesia banyak menghadirkan pemikiran kebudayaan yang menarik. Akan tetapi, forum kongres tersebut merosot jadi seperti simposium ilmiah saja, tanpa sangkut-paut yang jelas dengan proses pengambilan kebijakan di bidang kebudayaan dan usaha bersama masyarakat yang sistematis untuk mengelola kebudayaan. Sebagai forum percakapan para ahli dan budayawan, Kongres Kebudayaan Indonesia sejak tahun 2003 menghasilkan begitu banyak rekomendasi yang bagus tapi tak berbuah menjadi kebijakan apa-apa. Begitu banyak seruan akan perlunya “strategi kebudayaan”, tapi tak ada yang betul-betul bisa ditindak-lanjuti dalam kebijakan yang terencana dan sistematis.

Keperluan untuk merumuskan strategi kebudayaan secara menyeluruh sudah disuarakan sejak lama. Namun pembicaraan tentang strategi kebudayaan selalu punya risiko ganda.

Di satu sisi, ada risiko terjebak dalam semangat yang terlampau teknokratis dengan segala pretensi untuk membentuk tatanan hidup baru yang diturunkan dari ideal-ideal normatif sang perencana. Dalam arti itu, kebudayaan dipersepsi sebagai hal yang dapat sepenuhnya dibentuk berdasarkan suatu model konseptual, tanpa mengindahkan praktik kebudayaan masyarakat. Seakan-akan kebudayaan diartikan sebagai kewenangan mutlak Negara untuk menentukan dan membentuk perikehidupan warganya.

Di sisi lain, ada risiko terjebak dalam kelembaman rutinitas praktik budaya masyarakat tanpa arah bersama, tanpa usaha bersama untuk menetapkan arah kebudayaan nasional kita. Akibatnya, berkembanglah praktik-praktik budaya yang semakin mengerucut pada pengerasan identitas primordial dan pada akhirnya membuahkan semangat sektarian yang mengancam integrasi bangsa. Hal ini akan terjadi bila Negara absen dalam urusan kebudayaan nasional dan membiarkan begitu saja terjadinya segala macam praktik budaya di masyarakat.

Pembicaraan tentang strategi kebudayaan seyogianya menghindari kedua dua risiko tersebut dengan mencari suatu titik tengah di antara pengaturan dan pembiaran. Artinya, Negara seharusnya tidak memposisikan diri sebagai empunya kebudayaan nasional sekaligus juga tak bisa cuci tangan sepenuhnya dari usaha membangun kebudayaan nasional itu. Negara, dengan kata lain, semestinya memainkan peranan sebagai pandu masyarakat, yakni membantu masyarakat merumuskan strategi kebudayaannya sendiri sekaligus membimbing masyarakat agar tetap sadar akan tujuan kehidupan bersama sebagai bangsa Indonesia yang diikat oleh cita-cita suci proklamasi kemerdekaan.

Pada 31 Agustus 2016, Presiden Joko Widodo menginstruksikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyusun strategi kebudayaan dengan mengacu pada Trisakti, yakni dengan memperhatikan bagaimana asas berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan dapat menjadi roh dari pengelolaan kebudayaan nasional. Strategi kebudayaan tersebut juga diharapkan dapat menghimpun masukan dari berbagai sektor dengan melibatkan segenap pemangku kepentingan bidang kebudayaan. Instruksi ini, bersama dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, membuat penyelenggaraan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 menjadi begitu berbeda dari seluruh kongres kebudayaan sejak 100 tahun yang lalu.

  1. Strategi Kebudayaan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017

Setelah 35 tahun dibicarakan, akhirnya pada 27 April 2017 DPR mengesahkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Semula bertajuk RUU Kebudayaan dan mulai dibahas pada tahun 1982, penyusunan selama itu terkendala karena debat tak ada habis soal definisi kebudayaan nasional dengan maksud mengatur cara masyarakat berkebudayaan. Mulai tahun 2016, pendekatan terhadap penyusunan itu pun diubah; maksudnya bukan mengatur cara masyarakat berkebudayaan, melainkan mengatur cara pemerintah mengelola kebudayaan. Sehingga objek yang diatur oleh undang-undang tersebut bukanlah masyarakat, melainkan pemerintah.

Perubahan paradigma penyusunan RUU Kebudayaan tersebut berasal dari kesadaran untuk kembali pada amanat Pasal 32 Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.” Kebudayaan yang maju adalah syarat bagi Indonesia untuk melaksanakan misi bangsa yang tertuang dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945: (1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (2) memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (4) melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dalam semangat “pemajuan” itulah, maka kemudian disusun dan disahkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 dinyatakan bahwa “Pemajuan Kebudayaan  adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan  kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.” Usaha pemajuan tersebut dilaksakan terhadap ekosistem dari sepuluh jenis Objek Pemajuan Kebudayaan: (1) tradisi lisan, (2) manuskrip, (3) adat istiadat, (4) ritus, (5) pengetahuan tradisional, (6) teknologi tradisional, (7) seni, (8) bahasa, (9) permainan rakyat dan (10) olahraga tradisional. Dalam menjalankan usaha pemajuan tersebut, pedoman yang digunakan adalah serangkaian dokumen yang disebut Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) kabupaten/kota, PPKD provinsi, Strategi Kebudayaan dan Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan.

Pasal 13 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 mengatur tentang penyusunan Strategi Kebudayaan. Prosesnya harus dimulai dari tingkat kabupaten/kota, melibatkan semua kalangan mulai dari akar rumput sampai perguruan tinggi, pemerintah maupun non-pemerintah. Kalangan pemerintah terdiri atas unsur organisasi perangkat daerah yang membidangi kebudayaan, perencanaan dan keuangan. Kalangan non-pemerintah terdiri atas unsur: (1) pendidik atau akademisi di bidang kebudayaan, (2) budayawan atau seniman, (3) dewan kebudayaan daerah atau dewan kesenian daerah, (4) organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang kebudayaan, (5) pemangku adat atau kepala suku, dan/atau (6) orang yang pekerjaannya memiliki kaitan erat dengan Objek Pemajuan Kebudayaan.

Strategi menjabarkan garis-garis besar pemajuan kebudayaan dalam 20 tahun mendatang untuk menjawab tantangan domestik maupun global yang dihadapi sekarang. Dokumen tersebut memuat: (1) abstrak dari dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah provinsi, Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah kabupaten/kota, dan dokumen kebudayaan lainnya di Indonesia, (2) visi pemajuan kebudayaan 20 tahun ke depan, (3) isu strategis yang menjadi skala prioritas untuk mempercepat pencapaian visi, dan (4) rumusan proses dan metode utama pelaksanaan pemajuan kebudayaan. Dengan demikian, ibarat bangunan, Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila adalah landasannya, sementara strategi kebudayaan adalah rangka bangunannya.

Setelah Strategi Kebudayaan menjadi rangka bangunan, Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan (RIPK) adalah isian terhadap rangka bangunan itu sehingga bentuk bangunan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur bisa terlihat. RIPK adalah penjabaran lebih rinci atas arah besar yang tertuang dalam Strategi Kebudayaan. Di dalamnya, tercantum sasaran dan hasil dari setiap program di bidang kebudayaan tingkat nasional serta pemetaan setiap Satuan Kerja pemerintah yang bertanggungjawab atas usaha pemajuan kebudayaan, yakni pembagian kerja antara unit-unit pemerintah dalam pemajuan kebudayaan.

Strategi Kebudayaan dan RIPK adalah acuan utama dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), baik di tingkat Pusat maupun Daerah. Di tingkat daerah bahan lain yang wajib jadi rujukan dalam penyusunan RPJM Daerah adalah PPKD. Dengan demikian, dokumen Strategi Kebudayaan merupakan bagian integral dari proses pengambilan kebijakan bidang kebudayaan di tingkat Pusat dan Daerah.

  1. Dari Akar Rumput Menuju Kongres Kebudayaan Indonesia 2018

Strategi Kebudayaan merangkum pemikiran, harapan dan aspirasi masyarakat mengenai pemajuan kebudayaan dan sekaligus menjembataninya dengan proses perumusan yang teknokratik, seperti RPJM dan RKP. Karena itu, Pasal 13 UU 5/2017 mengatur bahwa Strategi Kebudayaan ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Forum yang paling tepat untuk menyampaikan Strategi Kebudayaan ini adalah Kongres Kebudayaan Indonesia.

Mengemban segenap amanat dan semangat itu, Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 pun diselenggarakan dengan metode yang berbeda dari kongres-kongres sebelumnya. Jika sebelumnya, Kongres Kebudayaan Indonesia biasa dimulai dari pemaparan para ahli dan budayawan kemudian bermuara pada daftar puluhan rekomendasi, tapi tidak berlanjut pada perumusan strategi, maka sekarang titik tolaknya adalah rekomendasi dari bawah, dari tingkat akar rumput yang direkam dalam PPKD. Karena itu, forum penyusunan PPKD kabupaten/kota adalah bagian dari Kongres tahap pertama, atau pra-kongres tahap pertama. Dilihat dalam perspektif tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 adalah kongres kebudayaan terpanjang dalam sejarah Republik Indonesia, dimulai sejak bulan April 2018 dan memuncak pada bulan Desember 2018.

Hingga saat ini, sudah ada 256 kabupaten/kota yang melaksanakan penyusunan PPKD. Proses tersebut melibatkan 1500 orang, mencatat puluhan ribu objek pemajuan kebudayaan, lembaga serta sarana dan prasarana. Pada laman web http://kongres.kebudayaan.id/, ratusan PPKD yang telah disahkan bupati/walikota tersebut sudah diunggah sebagai bahan bacaan publik, selain juga disediakan versi ringkasan untuk memudahkan pembacaan.

Setelah penyusunan PPKD kabupaten/kota, proses tersebut naik ke tingkat provinsi. Hingga saat ini, sudah ada 26 provinsi yang melaksanakan penyusunan PPKD. Seluruh PPKD kabupaten/kota dibahas dan disimpulkan oleh tim perumus provinsi yang terdiri atas perwakilan tim perumus PPKD kabupaten/kota dan para ahli. Hasilnya adalah dokumen PPKD provinsi yang disahkan oleh gubernur. Pendampingan langsung dari Ditjen Kebudayaan dan para ahli ilmu budaya. Ini adalah tahap kedua persiapan kongres, atau pra-kongres tahap kedua.

Pada saat bersamaan, diadakan pula pertemuan para pemangku kepentingan pada tiap sektor kebudayaan. Sebagian dilaksanakan mandiri oleh lembaga/komunitas yang aktif di bidang bersangkutan, sebagian lain dikumpulkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan pada tanggal 6-7 November yang muncul di media sebagai prakongres, padahal sesungguhnya hanya satu bagian dari tahap kedua persiapan kongres. Sebagian bahkan sudah terlebih dulu memiliki rekomendasi pemajuan, seperti Konferensi Musik Indonesia (KAMI) di Ambon. Forum-forum prakongres sektoral ini antara lain:

  1. Prakongres 6-7 November: Sektor Infrastruktur dan Kelembagaan Seni
  2. Prakongres 6-7 November: Sektor Seni Pertunjukan
  3. Prakongres 6-7 November: Sektor Seni Musik
  4. Prakongres 6-7 November: Sektor Manuskrip, Sastra dan Tradisi Lisan
  5. Prakongres 6-7 November: Sektor Masyarakat Adat dan Kepercayaan
  6. Prakongres 6-7 November: Sektor Data Kebudayaan
  7. Prakongres 6-7 November: Sektor Kajian Dan Pendidikan Tinggi
  8. Prakongres 6-7 November: Sektor Diaspora Budaya
  9. Prakongres 6-7 November: Sektor Musyawarah Guru Mata Pelajaran
  10. Prakongres 6-7 November: Sektor Keberpihakan Khusus
  11. Prakongres 6-7 November: Sektor Budaya Dan Lingkungan Hidup
  1. Kongres Komunitas Sejarah
  2. Arsitektur dan Tata Ruang (ICAD)
  3. Produk dan Kerajinan (ICAD)
  4. Seni Visual (ICAD)
  5. Tari Kontemporer (IDF)
  6. Senawangi
  7. Pertemuan AMI
  8. Pertemuan Tenaga Ahli Cagar Budaya
  9. Teater (Pekan Teater Nasional)
  10. Filantropi Indonesia
  11. Forum Kokain (Komunitas Karawitan Indonesia)
  12. Pertemuan IAAI

Dengan adanya forum-forum prakongres ini, pemetaan permasalahan dan rekomendasi pemajuan kebduayaan menjadi semakin kaya. Apabila PPKD merupakan forum penggalian masukan Strategi Kebudayaan yang bersifat teritorial, forum-forum prakongres lainnya ini merupakan forum penggalian masukan Strategi Kebudayaan yang bersifat sektoral.

Untuk merumuskan hasil pembicaraan dari tingkat akar rumput pada PPKD kabupaten/kota dan provinsi serta forum-forum prakongres sektoral ini, dibentuklah Tim Perumus yang diketuai oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dengan Direktur Jenderal Kebudayaan sebagai sekretaris, dan beranggotakan 15 orang perwakilan ahli dan pelaku budaya. Tugas Tim Perumus ini adalah merangkum seluruh pembicaraan dalam PPKD dan forum-forum prakongres sektoral untuk kemudian menempatkannya ke dalam kerangka strategi yang koheren. Prakongres tahap pertama (kabupaten/kota) dan kedua (provinsi dan sektor/bidang menyediakan (a) bahan dasar bagi tim penyusun untuk menjalankan tugasnya membuat kerangka strategi yang koheren, dan (b) menyediakan bahan rujukan yang ditampilkan daring bagi penyusunan kebijakan yang lebih rinci di masa mendatang, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Sebelum sampai pada naskah akhir yang akan diserahkan kepada Presiden, Tim Perumus akan menyampaikan rancangan naskahnya dalam prakongres tahap ketiga yang melibatkan perwakilan dari tim penyusun PPKD kabupaten/kota dan provinsi serta para ahli. Dalam prakongres tahap ketiga ini diharapkan akan muncul rancangan akhir naskah Strategi Kebudayaan untuk disempurnakan dan dikomunikasikan secara efektif dalam Kongres Kebudayaan Indonesia 5-9 Desember 2018.

Kongres Kebudayaan Indonesia 5-9 Desember 2018

Dari uraian ini, nampak bagiamana Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 berbeda dari kongres-kongres kebudayaan sebelumnya. Apabila dalam kongres-kongres kebudayaan sebelumnya, proses diskusi dan pembahasan berlangsung hanya selama 2-3 hari dan melibatkan ratusan orang yang hadir dalam forum, maka dalam Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 pembicaraan tersebut berlangsung selama sembilan bulan dan melibatkan ribuan orang di seantero Republik Indonesia.

Kongres Kebudayaan Indonesia 5-9 Desember 2018 membuka ruang untuk penyempurnaan Strategi Kebudayaan. Lebih penting lagi, kegiatan tersebut menjadi upaya untuk mengkomunikasikan rancangan Strategi Kebudayaan secara efektif kepada khalayak. Kegiatan 5-9 Desember 2018 secara khusus ingin memberi tempat lebih leluasa kepada mereka yang kurang terwakili dalam diskusi-diskusi tentang strategi kebudayaan selama ini, yakni kalangan muda, perempuan, masyarakat adat, pelaku seni, kalangan difabel, dan seterusnya. Hal ini penting karena Strategi Kebudayaan dirancang dengan agenda memajukan kebudayaan yang inklusif, melibatkan semua pihak.

Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 ini juga didasari oleh keyakinan bahwa pengelolaan kebudayaan tidak akan berjalan apabila pemerintah ditempatkan sebagai pelaksana kebijakan dan masyarakat sebagai objek pelaksanaan kebijakan. Alasannya jelas, bukan pemerintah yang menciptakan kebudayaan, tetapi masyarakat. Pemerintah mesti berperan sebagai pemberdaya atau fasilitator, yakni mendorong partisipasi masyarakat untuk memajukan kebudayaannya sendiri.  Usaha pemajuan kebudayaan tidak bisa diwujudkan tanpa melalui perluasan partisipasi masyarakat dengan cara meningkatkan kompetensi tenaga kebudayaan di masyarakat dan mewujudkan akses masyarakat yang meluas, merata dan berkeadilan dalam segala urusan menyangkut kebudayaan. Inilah roh dari Kongres Kebudayaan Indonesia 2018.

Untuk menunjang pengejawantahan dari semangat tersebut, Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 didesain sebagai suatu perayaan atas kerja bersama memajukan kebudayaan. Dalam rangkaian acara tersebut, akan diselenggarakan aneka rupa kegiatan seni dan budaya, mulai dari 12 forum debat publik mengupas topik-topik paling hangat dan terkini di bidang kebudayaan, 13 forum kuliah umum dari para tokoh pemikir dan penggerak kebudayaan yang legendaris, 4 forum pidato kebudayaan dari para tokoh bangsa, 8 pertunjukan seni dan budaya mulai peragaan busana dari sampai pagelaran wayang kulit, konser musik kekinian yang menampilkan 18 band ternama, 12 forum inspiratif dari para pelopor di bidangnya, 2 pameran objek-objek pemajuan kebudayaan, serangkaian aktivitas mural bersama seniman street art, belasan lokakarya budaya dan bazar rakyat bertema kuliner maritim. Keseluruhan acara ini menghadirkan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 bukan saja sebagai forum musyawarah tetapi juga suatu festival budaya.

Dengan segelintir perkecualian, seluruh kegiatan Kongres Kebudayaan Indonesia 5-9 Desember 2018 diselenggarakan di sekitar kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Jadwal Acara KKI 2018

9 Desember 2018, Pkl. 14.00 – 17.00 WIB

Lokasi : Plaza Insan Berprestasi

9 Desember 2018, Pkl. 19.00-22.00 WIB

Lokasi : Panggung Kubah Bambu

Asset-2a-1.png
Pin

Pembukaan

Pembukaan

5 Desember 2018 , Pkl. 09.00-10.00 WIB

Pembukaan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018: 100 Tahun Kongres Kebudayaan Indonesia

Tempat : Ruang Graha Utama
Pin

Lokakarya

Lokakarya


  • Membuat Buku Anak

    • 2 - 7 Desember 2018

    • Lokasi : Galeri Nasional



  • Workshop I - Mengajar Kreatif untuk Guru PAUD TK

    • 5 Desember 2018, Pkl. 09.00 - 12.00 WIB

    • Lokasi : Perpustakaan Pusat Kemdikbud



  • Workshop II - Mengajar Kreatif untuk Guru PAUD TK

    • 6 Desember 2018, Pkl. 9.00-12.00 WIB

    • Lokasi : Perpustakaan Pusat Kemdikbud



  • Membuat Tembikar

    • 8 Desember 2018, Pkl. 9.00-12.30 WIB

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Membuat Suling

    • 8 Desember 2018, Pkl. 9.00-12.30 WIB

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Membuat Sketsa

    • 8 Desember 2018

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Membuat Layang-layang

    • 8 Desember 2018

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Membatik, Menenun dan Menyulam

    • 8 Desember 2018

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Merajut

    • 8 Desember 2018

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Membuat Ramuan Tradisional

    • 8 Desember 2018

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Membuat Tembikar

    • 9 Desember 2018, Pkl. 9.00-12.30 WIB

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Membuat Suling

    • 9 Desember 2018, Pkl. 9.00-12.30 WIB

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Membuat Sketsa

    • 9 Desember 2018

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Membuat Layang-layang

    • 9 Desember 2018

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Membatik, Menenun dan Menyulam

    • 9 Desember 2018

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Merajut

    • 9 Desember 2018

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



  • Membuat Ramuan Tradisional

    • 9 Desember 2018

    • Lokasi : Gedung Parkiran Motor



Pin

Bazar Kuliner Laut

Bazar Kuliner Laut


  • Bazar Kuliner Laut

    • 5 - 8 Desember 2018, Pkl. 11.00-22.00 WIB

    • Lokasi : Area Parkir Masjid Kemendikbud



  • Demo Masak

    • 5 - 8 Desember 2018, Pkl. 11.00-22.00 WIB

    • Lokasi : Area Parkir Masjid Kemendikbud



Pin

Konser Musik Lantai Atas

Konser Musik Lantai Atas


  • Robi Navicula

    • 7 Desember 2018, 18.30-19.00 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • Nasida Ria

    • 7 Desember 2018, 19.30-20.15 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • OM Pancaran Sinar Petromaks

    • 7 Desember 2018, 20.45-21.15 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • Jason Ranti

    • 7 Desember 2018, 21.30-22.15 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • Irama Nusantara

    • 7 Desember 2018, 23.30-00.30 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



Pin

Pertunjukan & Muralis

Pertunjukan & Muralis


  • Molucca Bamboowind Orchestra :  

    • 5 Desember 2018 , Pkl. 19.30-21.00 WIB

    • Lokasi : Panggung Kubah Bambu



  • Wayang Sasak :

    • 5 Desember 2018 , Pkl. 17.00-18.00 WIB

    • Lokasi : Plaza Insan Berprestasi



  • Pertunjukan Keliling Siang : Kabasaran

    • 5 Desember 2018, Pkl. 13.00-13.30 WIB

    • Lokasi : Lingkungan Kemendikbud



  • Pertunjukan Keliling Sore : Kabasaran

    • 5 Desember 2018, Pkl. 17.00-17.30 WIB

    • Lokasi : Lingkungan Kemendikbud



  • Jakarta City Philharmonic

    • 6 Desember 2018, Pkl. 20.00-22.00 WIIB

    • Lokasi : Panggung Kubah Bambu



  • Pertunjukan Sore : Flying Baloon Puppet

    • 6 Desember 2018, Pkl.17.00-18.00 WIB

    • Lokasi : Plaza Insan Berprestasi



  • Musik Trotoar : Komunitas Pemusik Jalanan Difabel

    • 6 Desember 2018 , Pkl. 18.30-20.00 WIIB

    • Lokasi : Trotoar FX Sudirman



  • Kua Etnika featuring Idang Rasjidi, Richard Hutapea, dan Endah Laras

    • 7 Desember 2018, Pkl. 20.00-21.30 WIB

    • Lokasi : Panggung Kubah Bambu



  • Pertunjukan Keliling Siang : Barongsai Naga

    • 6 Desember 2018, Pkl. 13.30-14.00 WIB

    • Lokasi : Kompleks Kemdikbud



  • Pertunjukan Keliling Sore : Barongsai Naga

    • 6 Desember 2018, Pkl. 17.00-17.30 WIB

    • Lokasi : Kompleks Kemdikbud



  • Pertunjukan : Nusa Tuak

    • Acara : Pidato Kebudayaan

    • 7 Desember 2018 , Pkl. 15.00-15.30 WIB

    • Lokasi : Plaza Insan Berprestasi



  • Pertunjukan Sore , Madihin: Tradisi Lisan Kalimantan Selatan

    • 7 Desember 2018 , Pkl. 17.00-18.00 WIB

    • Lokasi : Plaza Insan Berprestasi



  • Pertunjukan Keliling Siang : Bambu Biak

    • 7 Desember 2018, Pkl. 13.30-14.00 WIB

    • Lokasi : Kompleks Kemdikbud



  • Pertunjukan Keliling Sore : Bambu Biak

    • 7 Desember 2018, Pkl. 17.00-17.30 WIB

    • Lokasi : Kompleks Kemdikbud



  • Musik Trotoar : Tarling

    • 7 Desember 2018, Pkl. 18.30-20.00 WIB

    • Lokasi : Trotoar FX Sudirman



  • Pemutaran Film Nominasi FFI & Diskusi Film

    • 7 Desember 2018, Pkl. 15.30-18.00 WIB

    • Lokasi : Ruang Sinema Perpustakaan Kemdikbud



  • Karawitan Eselon & Ki Anom Suroto: Dewa Ruci - Bima Suci

    • 8 Desember 2018, Pkl. 19.30-02.00 WIB

    • Lokasi : Panggung Kubah Bambu



  • Republic of Performing Arts featuring Marjinal

    • Acara : Pidato Kebudayaan

    • 8 Desember 2018, 15.30-16.30 WIB

    • Lokasi : Plaza Insan Berprestasi



  • Pertunjukan Keliling Siang : Tanjidor oleh Nusa Budaya

    • 6 Desember 2018, Pkl. 11.00-11.30 WIB

    • Lokasi : Kompleks Kemdikbud



  • Pertunjukan Keliling Sore : Tanjidor oleh Nusa Budaya

    • 6 Desember 2018, Pkl. 14.30-15.00 WIB

    • Lokasi : Kompleks Kemdikbud



  • Pertunjukan Keliling Siang : Hudog oleh Sanggar Mawar Budaya

    • 6 Desember 2018, Pkl. 13.00-13.30 WIB

    • Lokasi : Kompleks Kemdikbud



  • Pertunjukan Keliling Sore : Hudog oleh Sanggar Mawar Budaya

    • 6 Desember 2018, Pkl. 17.00-17.30 WIB

    • Lokasi : Kompleks Kemdikbud



Pin

Pawai Budaya

Pawai Budaya

9 Desember 2018

Jalan Sudirman (Di depan GBK - Bundaran Senayan)
Pin

Kuliah Umum

Kuliah Umum


  • Ferdiansyah: Sejarah Undang-undang Pemajuan Kebudayaan

    • 5 Desember 2018, Pkl. 10.30-12.00 WIB

    • Lokasi : Gedung A, Lantai 3 Ruang Graha Utama



  • Premana W. Permadi (Fisikawati, Peneliti Observatorium Bosscha) : MendedahAnthropocen

    • 5 Desember 2018, Pkl. 13.00-14.30 WIB

    • Lokasi : Gedung A, Lantai 3 Ruang Graha Utama



  • Aan Mansyur (Penyair): Kegamangan Puisi (Antara Bahasa Ibu, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Asing)

    • 5 Desember 2018, 16.30-18.00 WIB

    • Lokasi : Gedung A, Lantai 3 Ruang Graha Utama



  • Wiratno: Kebudayaan sebagai Basis Konservasi Alam

    • 6 Desember 2018, Pkl. 13.00-14.30 WIB

    • Lokasi : Gedung A, Lantai 3 Ruang Graha Utama



  • Wardiman Djojonegoro: Peningkatan Sastra & Budaya Daerah - Kasus Naskah dan Panji

    • 6 Desember 2018, Pkl. 13.00-14.30 WIB

    • Lokasi : Gedung A, Lantai 3 Ruang Graha Utama



  • Herawati Sudoyo: Asal-usul Genetik Manusia Indonesia

    • 6 Desember 2018, Pkl. 17.00-18.30 WIB

    • Lokasi : Gedung A, Lantai 3 Ruang Graha Utama



  • Yu Sing: Rumah Tradisional Peka Bencana

    • 7 Desember 2018, Pkl. 10.30-12.00 WIB

    • Lokasi : Gedung A, Lantai 3 Ruang Graha Utama



  • Nyoman Shuida: Kelembagaan Efektif bagi Pemajuan Kebudayaan

    • 7 Desember 2018, Pkl. 13.00-14.30 WIB

    • Lokasi : Gedung A, Lantai 3 Ruang Graha Utama



  • Bonnie Triyana: Arsip Tokoh Bangsa

    • 7 Desember 2018, Pkl. 16.30-18.00 WIB

    • Lokasi : Gedung A, Lantai 3 Ruang Graha Utama



  • Dedi S. Adhuri: Ekosistem Budaya Maritim

    • 8 Desember 2018, Pkl.10.30-12.00 WIB

    • Lokasi : Gedung A, Lantai 3 Ruang Graha Utama



  • Endo Suanda : Keluarga Tradisi dan Arah Pengembangan Sekolah Tinggi Seni

    • 8 Desember 2018, Pkl. 13.00-14.30 WIB

    • Lokasi : Gedung A, Lantai 3 Ruang Graha Utama



Pin

Pidato Kebudayaan

Pidato Kebudayaan


  • Resolusi Konflik Berbasis Adat-istiadat oleh Jacky Manuputty

    • 5 Desember 2018, Pkl. 15.30-16.30 WIB

    • Lokasi : Plaza Insan Berprestasi



  • Membuka Simpul Budaya Baru - Revolusi Industri 4.0 Oleh Budiman Sudjatmiko

    • 6 Desember 2018, Pkl. 15.30-16.30 WIB

    • Lokasi : Plaza Insan Berprestasi



  • Kebebasan Berekspresi VS Puritanisme Agama Oleh D. Zawawi Imron

    • 7 Desember 2018, Pkl. 15.30-16.30 WIB

    • Lokasi : Plaza Insan Berprestasi



  • Menuju Dana Perwalian Kebudayaan Oleh M. Chatib Basri

    • 8 Desember 2018, Pkl. 15.30-16.30 WIB

    • Lokasi : Plaza Insan Berprestasi



Pin

Debat Publik

Debat Publik


  • Pengembangan Permainan Rakyat

    • 5 Desember 2018, Pkl. 14.00-15.30 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • Pengembangan Budaya VS Konservasi Alam (Noer Fauzi Rachman, Sarasdewi, Marco Kusumawijaya | Moderator: Roberto Hutabarat).

    • 5 Desember 2018, Pkl. 16.30-18.00 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal





  • Seni di Ruang Publik (Samuel Indratma (perupa), Andy Malewa (Rrektor Institut Musik Jalanan), Direktur MRT,  Dinas Tata Ruang Jakarta | Moderator: Leonhard Bartolomeus)

    • 5 Desember 2018, Pkl. 19.00-20.30

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • Pengelolaan Kekayaan Intelektual Komunal (Agus Sarjono, Candra Darusman, Miranda Risang Ayu) Moderator: Hafez Gumay (Agus Sarjono, Candra Darusman, Miranda Risang Ayu) Moderator: Hafez Gumay

    • 6 Desember 2018, Pkl. 14.00-15.30 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • Koperasi sebagai Wahana Pemajuan Kebudayaan (Suroto, Tulus Tambunan, Arif Budimanta) Moderator: Hizkia Yosie

    • 6 Desember 2018, Pkl. 17.00-18.30 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • Serapan: Eksplorasi Pengayaan Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko, Dr. Elsa Putri, Michael Joani | Moderator: Heru Joni Putra)

    • 6 Desember 2018, Pkl. 17.00-18.30 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • Bank Benih sebagai Ketahanan Budaya

    • 7 Desember 2018, Pkl. 11.30-13.00 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • Literasi Digital: Kebudayaan Hari Ini dan Esok (Damar Juniarto, Cyberkreasi, Onno W Purbo) Moderator: Alberth Reza Sianturi

    • 7 Desember 2018, Pkl. 14.00-15.30 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • HKI sebagai Jaminan Fiducia

    • 7 Desember 2018, Pkl. 16.30-18.00 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal




  • Pengembangan Permainan Rakyat (M. Zaini Alif; Dennis Adhiswara)

    • 8 Desember 2018, Pkl. 11.30-13.00 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • Pemanfaatan Cagar Budaya : Konservasi VS Revitalisasi (Dirut PT Taman, Ketua TACBN (Pak Roso), Panji Kusumah, Ketua IAAI (bu Wiwin), Hengki Pariwisata, Juara 1 Aku dan Purbakala.

    • 8 Desember 2018, Pkl. 14.00-15.30 WIB

    • Lokasi : Lapangan Futsal



  • Kanon Sastra Indonesia: Perlukah? (Faruk HT, Zen Hae, Saut Situmorang, Esha Tegar Putra, Jamal D. Rahman) Moderator: Ni Made Purnamasari

    • 8 Desember 2018, Pkl. 16.30-18.00

    • Lokasi : Lapangan Futsal



Pin

Pameran

Pameran


  • Suara Suara Bahasa: Pameran Manuskrip, Bahasa dan Tradisi Lisan (Kurator: Afrizal Malna, Ugeng T. Moetidjo, Ibrahim Adisurya)

    • 5 - 8 Desember 2018, Pkl. 10.00 - 19.00

    • Lokasi : Lantai 1, Gedung A



  • Pameran Pengetahuan Tradisional

    • 5 - 8 Desember 2018, Pkl. 10.00 - 19.00

    • Lokasi : Lobi Gedung E



Pin

Kongkow Muralis

Kongkow Muralis

5 - 9 Desember 2018

Lokasi : Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Sekitarnya
  • Pameran objek pemajuan kebudayaan
  • Berbagai lokakarya (seperti seni untuk anak, membuat buku anak, pengolahan ikan, dll)
  • Bazar kuliner laut
  • Kuliah umum
  • Debat publik
  • Forum inspirasi
  • Pidato kebudayaan
  • Pemutaran film
  • Pertunjukan musik bambu
  • Pameran objek pemajuan kebudayaan
  • Berbagai lokakarya (seperti seni untuk anak, membuat buku anak, pengolahan ikan, dll)
  • Bazar kuliner laut
  • Kuliah umum
  • Debat publik
  • Forum inspirasi
  • Pidato kebudayaan
  • Pemutaran film
  • Pertunjukan mop Papua dan musik orkestra
  • Pameran objek pemajuan kebudayaan
  • Berbagai lokakarya (seperti seni untuk anak, membuat buku anak, pengolahan ikan, dll)
  • Bazar kuliner laut
  • Kuliah umum
  • Debat publik
  • Forum inspirasi
  • Pidato kebudayaan
  • Pemutaran film
  • Pertunjukan bambu Biak, Madihin dan tarling
  • Pameran objek pemajuan kebudayaan
  • Berbagai lokakarya (seperti seni untuk anak, merajut, membantik, membuat ramuan tradisional, pengolahan ikan, dll)
  • Bazar kuliner laut
  • Kuliah umum
  • Debat publik
  • Forum inspirasi
  • Pidato kebudayaan
  • Pemutaran film
  • Pertunjukan hudog, kolintang dan wayang kulit
  • Pawai budaya
  • Berbagai lokakarya (seperti seni untuk anak, merajut, membantik, membuat ramuan tradisional, pengolahan ikan, dll)
  • Bazar kuliner laut
  • Sidang pleno
  • Penyerahan Strategi Kebudayaan

Deskripsi Rangkaian Acara KKI 2018

Pada pagi hari terakhir dari Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 akan diadakan Pawai Budaya. Pawai ini hendak menunjukkan keberagaman budaya di Indonesia. Secara gamblang, pawai ini mempertunjukkan bahwa keberagaman itu menggelora di dalam satu kesatuan yang begitu harmonis.

Inilah kesempatan terakhir untuk memperkuat Strategi Kebudayaan. Inilah kesempatan terakhir untuk memperkuat dan memoles hasil kerja seluruh insan kebudayaan di Indonesia yang dilakukan sejak Maret 2018. Sebuah tempat terhormat dan sakral untuk perjalanan kebudayaan kita ke depannya.

Setelah sidang pleno menghasilkan naskah Strategi Kebudayaan, Strategi Kebudayaan itu akan diserahkan kepada Presiden. Prosesi ini adalah sebentuk penerjemahan dari esensi Strategi Kebudayaan; sebuah amanah untuk masa depan kebudayaan Indonesia.

Pemaparan utama yang bersifat visioner, berisi gagasan segar, serta berbasis keadaan riil. Pidato Kebudayaan akan disampaikan oleh para ahli terpilih dalam upaya menjawab permasalahan-permasalahan mendesak di bidang kebudayaan saat ini. Permasalahan-permasalahan yang diangkat merupakan saripati dari permasalahan-permasalahan yang ditemukan di dalam dokumen-dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah dari kabupaten/kota dan provinsi di seluruh Indonesia.

Ceramah semi akademik tentang tema-tema yang membutuhkan eksplorasi dan kajian mendalam dan berupaya menjawabi permasalahan-permasalahan kebudayaan yang relevan saat ini. Tema-temanya berasal dari hasil Pra Kongres Sektoral dan Rekomendasi Sektoral yang dilaksanakan sepanjang 2018. Para narasumber kuliah umum yang dipilih adalah para ahli di bidangnya masing-masing yang telah melakukan eksplorasi, kajian, dan penelitian pada tiap tema yang mereka bawakan atau memiliki pengalaman unik terhadap tema yang mereka bawakan.

Ajang diskusi terbuka antara para narasumber terpilih untuk coba mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan dalam bidang kebudayaan. Tema-tema yang diangkat berasal dari permasalahan-permasalahan menonjol yang muncul dari pembahasan PPKD dan Pra Kongres Sektoral yang dihasilkan sepanjang 2018. Debat publik bersuasana informal untuk membentuk atmosfer yang luwes dan hangat untuk peserta maupun narasumber.

Penyampaian pengalaman inspiratif dalam kerja budaya yang telah dijalankan oleh para narasumber terpilih yang umumnya berasal dari generasi muda. Para narasumber terpilih adalah para motor penggerak dalam wilayah kerjanya masing-masing. Mereka telah bekerja secara konsisten memberikan kontribusi pada masyarakat.

Forum untuk para peserta kongres untuk memberikan pendapat secara bebas serta masukan-masukan yang bermuara pada Strategi Kebudayaan serta Resolusi Kongres Kebudayaan Indonesia 2018. Forum ini akan diadakan setiap hari selama Kongres Kebudayaan Indonesia 2018, kecuali pada hari terakhir.

Pertunjukan utama adalah seni pertunjukan yang melibatkan banyak penampil, menjunjung seni pertunjukan skala besar yang menuntut kemampuan teknis yang kompleks, serta merupakan pengejawantahan wacana-wacana besar dalam rupa seni pertunjukan. Secara kuratorial, pertunjukan utama merupakan showcase atas capaian-capaian pengembangan seni pertunjukan di Indonesia.

Segmen Musik Petang didesain untuk menarik perhatian generasi milenial dalam Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 ini. Para pemusik yang terpilih untuk tampil dalam Musik Petang adalah kelompok-kelompok musik yang terkenal di kalangan milenial dan juga dikenal memiliki keunikan dalam ekspresi musikalitasnya masing-masing serta punya pendirian-pendirian dan cara pandang tertentu. Para musisi yang tampil dipilih dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga dapat merepresentasikan keragaman musik yang sedang digandrungi anak muda Indonesia saat ini.

Pertunjukan Sore adalah rangkaian seni pertunjukan yang menghantarkan Pidato Kebudayaan menuju Pertunjukan Utama. Seni pertunjukan yang dipilih adalah seni-seni pertunjukan yang memilik akar tradisi yang kuat tetapi terlihat pengembangannya menuju seni pertunjukan kontemporer untuk menunjukkan kekuatan pengembangan seni tradisional Indonesia.

Musik Trotoar dan Pertunjukan Keliling didesain sebagai penarik perhatian publik sekeliling kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program ini didesain sebagai penyiar tentang berlangsungnya Kongres Kebudayaan Indonesia 2018. Musik Keramaian dipilih dari seni-seni tradisi yang bersifat massal dan bergerak. Sementara untuk Musik Trotoar akan menampilkan seni-seni yang pada dasarnya punya kemampuan menarik perhatian banyak orang.

Ekspresi seni visual dalam rangkaian KKI terdiri dari pendirian Panggung Kubah Bambu (seni instalasi), Pameran (seni instalasi), Kongkow Muralis (seni mural dan grafitti), dan Dekorasi Façade (seni grafis). Keseluruhan ekspresi visual ini berdasarkan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan yang termaktub dalam UU No.5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Panggung Kubah Bambu dipilih menjadi panggung utama karena ingin mengangkat bambu sebagai salah satu bahan dasar utama yang khas dimiliki oleh Indonesia dan memiliki filosofi tinggi dalam kebudayaan Indonesia. Bambu dikenal sebagai tanaman serba guna yang bisa digunakan keseluruhannya dari ujung akar sampai ujung daunnya. Bambu juga merupakan akar dari banyak kebudayaan Indonesia. Seniman yang dipilih merupakan arsitek yang selama ini bereksplorasi dengan materi dasar tradisional ini, sehingga akan tampak perpaduan antara nilai-nilai tradisional dengan perspektif tata bangunan modern yang saintifik.

Pengetahuan Tradisional Perihal Waktu

Pameran ini akan memamerkan pengetahuan-pengetahuan tradisional Indonesia perihal posisi waktu sebagai pengetahuan yang mendasari identitas budaya-budaya kita yang hidup di khatulistiwa, bersifat bahari, dan asimilasinya dengan budaya-budaya lain yang hidup di dunia. Pameran ini dikuratori oleh seorang arkeolog yang kerap mengeksplorasi pameran publik sebagai cara penyampaian informasi-informasi budaya.

 

Suara Suara Bahasa

Ini merupakan pameran tentang manuskrip, sastra, dan tradisi lisan yang hidup dan berkembang di seluruh Indonesia. Pameran ini dikuratori oleh seniman yang mendalami pemanfaatan seni sastra dan bahasa dan memiliki perspektif yang unik dalam perjalanan berkeseniannya karya-karyanya.

Seni mural dan grafitti yang dikenal sebagai seni visual jalanan (street art) adalah seni visual yang selalu merespon keadaan lingkungan dalam konteksnya masing-masing. Mural dan grafitti yang dahulu dikenal sebagai kegiatan merusak, dalam 5-10 tahun terakhir sudah menjelma sebagai seni yang diterima publik luas sebagai penghias kota dan bahkan sudah dimanfaatkan oleh banyak Pemda di kota-kota besar sebagai ekspresi seni ruang publik yang dapat menyampaikan pesan-pesan sosial.

Karakter-karakter penting di dalam sejarah komik dan karikatur di Indonesia akan dihadirkan sebagai cara merepson Objek Pemajuan Kebudayaan melalui bahasa visual Karakter-karakter dan seniman-seniman yang dipilih merupakan representasi perkembangan komik publik dari masa ke masa.

 

Bazaar Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 mengambil tema Kuliner Bahari dan menampilkan berbagai kuliner, penganan, olahan dari bahan-bahan laut Indonesia serta berbagai makanan yang berdasar pengetahuan tradisional Indonesia. Sedapat mungkin bisa merepresentasi kekayaan budaya pesisir dan bahari Indonesia.

Lokakarya Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 akan banyak berfokus pada anak-anak, baik sebagai peserta maupun sebagai objek utama dalam lokakarya. Dengan demikian, lokakarya membuat Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 menjadi kegiatan yang ramah anak sebagai penerus kebudayaan Indonesia masa depan.

Bekerjasama dengan Festival Film Indonesia 2018, Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 akan memutar nominasi film pendek dan film dokumenter dari Festival Film Indonesia 2018. Pemutaran akan dilanjutkan dengan diskusi santai untuk membahas film-film tersebut.